LOSARIPOST.com - Cukup dengan satu cuitan dari tokoh penting dunia, pasar keuangan di negara berkembang (emerging markets) bisa langsung kebakaran jenggot. Anak Gen Z dan milenial tentu sepakat menyematkan istilah khusus untuk fenomena ini adalah bak kicauan pemicu IHSG "Merah Merona."
Itu adalah fakta nyata di depan mata. Ketikan jari seorang Donald Trump terkait dinamika politik dan ekonomi global mampu secara instan memukul mundur pasar negara berkembang, tak terkecuali Indonesia. Imbasnya sangat terasa, memicu lonjakan volatilitas saham secara masif di hampir semua sektor tanpa pandang bulu.
Pesatnya era digital membuat arus informasi yang bertebaran liar menjadi kunci utama di balik rentannya pertahanan IHSG. Bagi masyarakat umum, naik-turunnya Indeks Harga Saham Gabungan mungkin tidak lebih dari sekadar deretan angka merah-hijau yang menjenuhkan.
Namun, perlukita sadari, bahwa dinamika pasar saham adalah cerminan langsung dari ketidakpastian ekonomi yang dampaknya bisa merembes/berdampak perlahan hingga ke warung kopi dan UMKM di sekitar kita.
Pasar saham, khususnya di negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia, ibarat sistem saraf yang sangat sensitif/cepat menanggai sesuatu, beperti wanita yang datang bulan.
Fakta lainnya juga menunjukkan bahwa pasar keuangan di kawasan emerging markets memang lebih rentan terhadap guncangan global dibandingkan negara maju, penelitian kami yang berjuudl Analisis Volatilitas Pasar Saham pada Emerging Markets yang terbit pada Jurnal Jurnal Riset Rumpun Ilmu Ekonom (JURRIE) pada 2026-04-30.
Dimana guncangan di satu sisi dunia bisa menyebar hingga meningkatkan transmisi risiko antarnegara seolah tanpa batas. Inilah yang sering membuat bursa saham kita terkesan mudah "kagetan."
Dalam kacamata lain pergerakan pasar, ada fenomena yang disebut sebagai volatility clustering atau pengelompokan ketidakstabilan. Dimana ketika terjadi sebuah kepanikan massal (panic Selling) di pasar akibat berita buruk, periode ketidakstabilan itu cenderung akan saling memicu dan diikuti oleh gelombang volatilitas tinggi.
Seeperti saat kita tengah mengendarai sebuah kendaraan yang padat akan kendaraan, saat satu kendaraan yang melakukan pengereman mendadak tentu itu bisa memicu kemacetan panjang. Ini seperti sebuah kondisi kepanikan itu lahir, dan bahkan kepanikan memicu kepanikan baru. Masalah utamanya adalah efek kejut ini, atau kita tarik ke pasar saham, ini kondisi yang sangat awet, atau terjadinya cukup berkepanjangan.
Dari hasil riset yang kami lakukan, bahwa data historis pergerakan saham di negara-negara berkembang Asia, termasuk Indonesia menunjukkan bahwa guncangan volatilitas memiliki efek jangka panjang. Ketika pasar dihantam sentimen negatif yang ekstrem, guncangan tersebut tidak segera hilang, atau menguap, melainkan bertahan dalam rentang waktu yang relatif lama sebelum akhirnya bisa kembali ke kondisi keseimbangan normalnya.
Fakta empiris kita dapat melihat IHSG masih berada di kondisi volatilitas per hari ini, tanggal (25/05/2026).
Jika diamatai polanya secara jangka panjang, probabilitas terjadinya penurunan harga saham secara ekstrem atau mendadak anjlok justru jauh lebih sering terjadi dibandingkan dengan probabilitas harga melonjak drastis. Ini menjadi alarm bahwa risiko pasar selalu mengintai kita sebagai investor "Unyu-unyu".
Lalu, apa makna dari semua rollercoaster finansial (Volatilitas) pada kondisi Markets saat ini.
Bagi para milenial (FOMO Investor) dan investor ritel yang baru terjun berinvestasi, jangan mudah terkena/terpengaruh pada Fear of Missing Out (FOMO).
Mengingat pasar kita memiliki persistensi volatilitas yang tinggi, jangan mengambil keputusan finansial hanya bermodal ikut-ikutan influencer di media sosial tanpa analisis yang matang/mendalam
Kemudian, diversifikasi adalah harga mati. Mengingat volatilitas tinggi bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi dari tingkat ketidakpastian ekonomi, menyimpan seluruh dana (aset) dalam satu jenis investasi (keranjang investasi) adalah sebuah kekeliruaan. Melakukn diversifikasi pada intrumen lain itu sangat penting..
Pada akhirnya, investasi di pasar keuangan ibarat mengarungi selat yang selalu dihantui oleh badai/cuaca buruk. Kita tidak punya kontrol dalam menghentikan badainya, namun kita punya kontrol untuk selalu bisa membangun kapal yang lebih kokoh dari hantaman badai.

Komentar
Nama Pengguna: Komentar...