LOSARIPOST.com – Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal, meminta pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomatik yang lebih aktif menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menurutnya, Indonesia perlu berada di garis depan dalam mendorong penghentian konflik serta mengupayakan terciptanya gencatan senjata.
Pernyataan tersebut disampaikan Syamsu Rizal, yang akrab disapa Deng Ical, setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di Iran. Pemerintah AS menyebut operasi militer itu sebagai respons atas serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania.
Deng Ical menilai eskalasi konflik hanya akan memperpanjang penderitaan masyarakat sipil dan memperbesar ancaman terhadap stabilitas dunia.
"Indonesia harus konsisten menyuarakan penghentian serangan dan mendorong semua pihak menahan diri. Tidak ada persoalan yang dapat diselesaikan melalui perang berkepanjangan. Jalan dialog dan diplomasi harus menjadi pilihan utama," ujar politisi Fraksi PKB tersebut dalam keterangannya, Minggu 2 Agustus 2026.
Legislator dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan I itu mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis di berbagai forum internasional yang dapat dimanfaatkan untuk menggalang dukungan internasional demi mewujudkan perdamaian.
Menurutnya, langkah tersebut juga sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia yang mengedepankan perdamaian dunia.
Ia pun mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama negara-negara sahabat segera memfasilitasi dialog antara kedua negara agar konflik tidak semakin meluas.
"Indonesia bersama PBB dan negara-negara sahabat harus mengajak Amerika Serikat dan Iran duduk bersama di meja perundingan. Gencatan senjata harus segera diwujudkan agar tidak semakin banyak korban berjatuhan," katanya.
Sebagai anggota Komisi I DPR RI yang membidangi urusan luar negeri dan pertahanan, Deng Ical mengingatkan bahwa dampak perang tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat secara langsung.
Konflik tersebut, menurutnya, juga berpotensi memicu krisis kemanusiaan, mengganggu keamanan kawasan, hingga meningkatkan ketidakpastian global.
"Rakyat sipil selalu menjadi pihak yang paling menderita. Selain korban jiwa, konflik ini akan memicu krisis kemanusiaan, mengganggu stabilitas kawasan, serta meningkatkan ketidakpastian global," tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dapat memengaruhi kondisi ekonomi dunia.
Gangguan terhadap rantai pasok internasional, kenaikan harga energi, hingga tekanan terhadap perekonomian berbagai negara menjadi risiko yang perlu diantisipasi, termasuk oleh Indonesia.
"Perang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Dunia membutuhkan perdamaian, bukan eskalasi konflik. Semua pihak harus mengedepankan diplomasi demi menjaga stabilitas dan melindungi kehidupan masyarakat sipil," pungkas Deng Ical.

Komentar
Nama Pengguna: Komentar...